Asam Garam Kehidupan: srikandi warisan.

Nuffnang

Pages

Showing posts with label srikandi warisan.. Show all posts
Showing posts with label srikandi warisan.. Show all posts

6 Sept 2014

Ummu Ammarah- pejuang wanita sejati.







Tinta sejarah menjadi saksi, bahawa tidak sedikit wanita mukminah yang terjun ke medan pertempuran, jihad fii sabilillah. Mereka menyelinap di antara lemparan-lemparan lembing, kilatan-kilatan pedang dan jatuhan anak-anak panah.

Mereka menyampaikan makanan, minuman dan ubat-ubatan bagi perajurit mukmin yang berjuang mempertahankan Islam. Bahkan jika keadaan memintanya untuk menghunus pedang, mereka tidak gentar justeru makin berkobar semangatnya. Diantara wanita-wanita pejuang itu adalah Nusaibah binti Ka’af Al-Ansariyah yang terkenal dengan Ummu ‘Umarah.

Sesungguhnya Ummu ‘Umarah merupakan salah satu contoh keberanian dan ketegaran. Ia merupakan sosok kepahlawanan yang tidak pernah gagal dalam melaksanakan kewajiban bilamana seruan jihad memanggilnya. Ia adalah sahabiyah Nabi yang utama ….. Ia termasuk salah satu dari dua wanita yang bergabung dengan tujuh laki-laki Ansar yang berbai’ah kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pada bai’at Aqabah kedua.

Pada waktu itu ia bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan dua orang putranya, Hubaid bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Dan wanita yang satu lagi adalah saudara perempuannya. Ibnu Sa’ad dalam Thalaqatnya menyatakan (yang terjemahannya): “Hunain, Perang Yamamah dan terpotong tangannya dan mendengar beberapa hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Sedangkan Imam Adz Dzahabi menyatakan (yang terjemahannya): “Ia (Ummu ‘Umarah) adalah wanita yang utama dan wanita dari kalangan Ansar, Khazraj, Najjar, Mazin dan juga sebagai orang Madinah. Saudaranya Abdullah bin Ka’ab termasuk orang yang ikut Perang Badar dan saudaranya Abdur Rahman termasuk orang yang suka menangis.

Ummu ‘Umarah menghadiri malam perjanjian Aqabah. Ia juga ikut dalam Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Hunain, Perang Yamamah dan aktif melakukan beberapa kegiatan.” Dalam perang Uhud, Ummu ‘Umarah Nusaibah berjuang bersama suaminya dan dua orang puteranya. Ia keluar untuk memberi minum dengan membawa qirbah (tempat air).

Namun ketika keadaan pasukan Muslimin berubah menjadi terdesak, ia ikut terjun langsung dalam pertempuran sehingga terluka dengan luka-luka sebanyak dua belas (dalam riwayat lain tiga belas. wallaahu a’lam). Tentang peristiwa ini Ummu ‘Umarah mengisahkan (yang terjemahannya): “Keadaan pasukan kaum Muslimin benar-benar berkecamuk. Banyak orang meninggalkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi Baginda, termasuk aku, suamiku, serta kedua anakku."

"Sementara di depanku, banyak orang sedang melarikan diri untuk mundur. Saat itu aku tidak bersenjata. Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang mengundurkan diri sambil membawa perisai, beliau lalu bersabda: “Berikanlah perisaimu kepada orang yang sedang berperang!” Orang tersebut segera melemparkannya dan aku segera memungutnya lalu aku gunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam."

"Pasukan yang menyerang saat itu adalah pasukan berkuda. Kami yakin, apabila bukan pasukan berkuda pasti kami sudah bisa mengatasinya. Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda menyerangku dengan pedang, serangan itu dapat aku tangkis. Ketika dia akan lari aku hantam kaki kudanya dan dia pun jatuh tertelungkup. Saat itu aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak: “Wahai putera Ummu ‘Umarah bantulah ibumu!”

"Lantas datanglah anakku dan kami bersama-sama menghabiskan orang itu.” Ummu ‘Umarah terus bertempur tanpa mengenal lelah, sambil sesekali membantu merawat mereka yang luka. Begitu sibuknya Ummu ‘Umarah, sampai-sampai ia tidak mengetahui kalau puteranya Abdullah bin Zaid terluka parah. Ia baru mengetahuinya setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak (yang terjemahannya): “Hai Abdullah! Kau ikat lukamu dulu baru kau teruskan bertempur lagi!”

Ummu ‘Umarah terkejut mendengar teriakan itu dan segera sadar putranya dalam bahaya. Segera ia mendekati dan mengobati luka putranya yang ternyata memang parah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengawasi keduanya dan setelah selesai, Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Nah … sekarang bangkitlah dan perangilah kaum itu !”

Melihat kejadian tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini ya Ummu ‘Umarah?” Kemudian datanglah orang yang memukul puteranya tadi lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Ya …. Ummu ‘Umarah ! Itu orang yang memukul anakmu datang!”

Tanpa banyak berbicara Ummu ‘Umarah menghadang orang yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghentam kakinya sehingga orang tersebut terduduk di tanah. Sambil tersenyum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang melihat hal itu bersabda (yang terjemahannya): “Engkau telah membalasnya ya Ummu ‘Umarah!”

Tidak lama kemudian beberapa orang datang dan bersama-sama membunuh orang tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda lagi (yang terjemahannya): “Alhamdulillah ….. ! Allah memberikan kesempatan kepadamu untuk membalas musuhmu dan menyaksikan pembalasan itu sendiri.”

Imam Adz Dzahabi meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata (yang terjemahannya): “Saya mengikuti perang Uhud, maka ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya dan ibu mendekati Baginda untuk melindungi. Lalu Baginda bertanya: “Mana Ummu ‘Umarah?” Ibu menjawab: “Ya! wahai Rasulullah” Baginda bersabda: “Lemparilah !” Lalu ibu melempari seorang laki-laki yang sedang naik kuda di depan beliau dengan batu dan mengenai mata kudanya."

"Kemudian kudanya itu bergoncang-goncang dengan kuat lantas jatuh bersama penunggangnya, lalu saya tindih orang itu dengan batu dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sambil tersenyum. Kemudian Baginda terlihat luka di pundak ibu, lalu Baginda berseru: “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di dalam syurga”

Mendengar itu ibu berkata: “Aku tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini!” Allahu Akbar! Betapa tegarnya engkau wahai Ummu ‘Umarah. Tidak lagi engkau menghiraukan lukamu setelah doa yang menggembirakan hatimu!

Begitulah Ummu ‘Umarah melewati hari-harinya dengan terus berjuang di jalan Allah dan Rasul. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah wafat muncullah si pendusta Musailamah al Kadzdzab yang mengaku sebagai Nabi sehingga kaum Muslimin pun memeranginya.

Takdir Allah menentukan bahawa Hubaib putera Ummu ‘Umarah ditawan Musailamah, kemudian disiksa dengan berbagai siksaan. Namun Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keteguhan, kesabaran dan kecekalan kepada putera Ummu ‘Umarah ini, meskipun teramat berat siksaan dirasakannya.

Akhirnya Allah mentaqdirkan Hubaib mati di tangan Musailamah dengan keadaan yang sangat tragis dan menyedihkan. Semoga Allah menempatkannya di Jannah yang penuh dengan kenikmatan. Al Waqidi menceritakan (yang terjemahannya): “Ketika sampai kepada Ummu ‘Umarah berita kematian anaknya di tangan Musailamah, maka ia berjanji kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar ia juga mati di tangan Musailamah atau ia yang membunuh Musailamah."

"Maka Ummu ‘Umarah ikut perang Yamamah bersama Khalid bin Walid, lalu Musailamah terbunuh dan tangan Nusaibah terpotong dalam perang tersebut.” Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Tanganku terpotong pada hari perang Yamamah padahal aku sangat berkeinginan membunuh Musailamah. Tidak ada yang dapat melarangku hingga aku melihat orang jahat itu mati terkapar. Dan tiba-tiba aku lihat anakku Abdullah bin Zaid mengusap pedangnya dengan pakaiannya, lalu bertanya kepadanya : “Engkaukah yang membunuhnya?”

Ia menjawab: “Ya” Kemudian aku sujud syukur kepada Allah.” Itulah sepenggal kisah Ummu ‘Umarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Ansariyah, sehingga seorang pejuang wanita yang berjuang dalam hidupnya untuk kejayaan Islam hingga akhir hayatnya. Semoga Alllah meredhainya dan menjadikannya redha terhadapNya. Dan semoga Allah menyambut dengan Rahmat-Nya yang luas dan menempatkannya di dalam syurga yang penuh dengan kebahagiaan, ketenangan dan ketenteraman yang hakiki. Wallaahu A’lam Bishashawab.

20 Mar 2014

Mariah Al Qibtiyah-hamba yang merdeka menuju Tuhannya

Langkah demi langkah diatur perlahan mengikut rentak unta yang berjalan di hadapannya.  Padang pasir yang tandus itu membuatkan fikirannya juga kering dan tandus. Langkahnya agak perlahan namun digagahi juga bagi menjunjung perintah raja yang sangat dihormati.

Mariah Al Qibtiyah meninggalkan istana mewah milik maharaja Mesir ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Fikirannya berputar ligat mengenang apakah yang bakal berlaku pada dirinya dan adiknya Sirin. Biji-biji pasir direnung seakan-akan mahu mengira butiran pasir yang terhampar dalam permusafiran itu, agar dengan cara itu dia dapat mengatasi masalah yang dihadapinya.

Perjalanan jauh antara Mesir dan Madinah memakan masa berbulan-bulan membuatkan hatinya diasak berbagai pertanyaan dan teka-teki yang sungguh membosankan. Baginya tidak ada satu panduan yang dapat mententeramkan jiwanya dan menjawab pertanyaan hatinya yang semakin bergelora. Cuma ia menaruh harapan yang tinggi biarlah apa yang sedang dan akan berlaku dapat dilalui dengan tabah di samping kebahagian hakiki yang diharapkan.

Habib bin Balta'ah menyedari apa yang berlaku pada diri Mariah. Dia sedaya upaya cuba memperbaiki keadaan itu. Berbagai-bagai cara dilakukan untuk menghiburkan dan menenangkan hati Mariah. Antaranya Habib cuba bersenandung, bersyair, bercerita tentang Islam, tentang perjuangan dan pengorbanan di samping cerita-cerita sejarah yang diselitkan dengan tarbiah dan dakwah Islamiah.

Yang terpenting dan sering diulang selalu ialah tentang peribadi Rasulullah, akhlaknya, taqwanya, rendah dirinya, pemaafnya, pemurahnya, kasih-sayangnya dan seterusnya pengorbanan baginda untuk Islam. Habib juga menceritakan keyakinan Rasulullah tentang keyakinan Rasulullah pada Tuhan yang Maha Esa dan pada hari yang dibangkitkan kelak.

Mariah mula tertarik dengan cerita-cerita dan segala penerangan dari mulut Habib. Walaupun segalanya masih baru bagi dirinya tapi atas kesungguhan Habib menyampaikan semua itu membuatkan dia mula berminat dengan Islam. Dan akhirnya pada suatu malam yang hening Mariah dan Sirin mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan Habib, salah seorang sahabat yang sangat dipercayai oleh Rasulullah.

Rasa rindu, ingin tahu dan melihat sendiri wajag Rasulullah dan peribadinya mula bermain di fikiran Mariah. Selama dalam perjalanan hanya cerita-ceritanya saja yang disampaikan ke telinganya. Kalau sebelum ini perjalanan dirasakan sungguh membosankan, tapi kini setiap langkah yang diaturkan diiringi dengan doa dan tasbih memuji Allah. Permusafiran ini dirasakan sungguh bermakna sekali. Diciptanya satu bait syair untuk melepaskan rindunya:

          Ya Rasulullah
          kami datang kepadamu
          ingin menjumpaimu
          ingin menatap wajahmu
          ingin melihat akhlak dan peribadimu
          wahai pemimpin agung
          wajahmu kami rindu
          bagai bulan purnama
          menghias malam yang indah.

 Setelah menempuh perjalanan panjang yang bersejarah itu, akhirnya mereka sampai ke Madinah. Rasulullah menyonsong kedatangan mereka dan menyambutnya dengan mesra penuh kegembiraan. Mariah tiba-tiba rasa malu dan agak kehairanan bila berhadapan dengan Rasulullah, kerana sangkanya Rasulullah seorang pemimpin tentulah mempunyai singghsana yang besar, istana yang bertingkat-tingkat dan pakaian yang menunjukkan kehebatan seperti rajanya di Mesir.

Tapi itu semua tidak ada pada Rasulullah.Rasulullah tidak ada pengawal peribadi yang mengawasinya dan tidak ada istana mewah miliknya. Bahkan Rasulullah sendiri datang menyambut mereka. Sedangkan yang disambut itu adalah dirinya seorang hamba abdi yang tidak mempunyai keistimewaan apa-apa.

Mariah hampir menitiskan air mata bila mengenangkan semua itu. Benarlah kata-kata Habib. Mabur, salah seorang hamba yang dihadiahkan oleh raja Muqauqis Mesir turut memeluk Islam. Sebelum ini dia enggan memeluk Islam tetapi apabila berjumpa dan berhadapan sendiri dengan Rasulullah, hati yang keras jadi lembut. Akhirnya dia juga menyerah diri untuk diislamkan.

Pancaran nur dari wajah Rasulullah membuatkan semua yang bertemu Baginda bersetuju mengatakan yang Baginda adalah seorang utusan Allah yang jujur, tidak ada kepentingan diri dan seorang pemimpin yang layak ditaati.

Rasulullah mengambil Mariah dan menempatkannya di tengah-tengah kebun anggur di 'Aliyah. ' Aliyah adalah sebuah kampung yang terletak di bahagian luar kota Madinah. Rasulullah sering berkunjung ke tempat Mariah seperti beliau mengunjungi hak miliknya. Bahkan Rasulullah sentiasa bersikap lemah-lembut kepadanya, di samping memberi penjagaan yang cukup dan menggaulinya sebagai hamba abdi yang dihalalkan Allah padanya.

Mariah rasa bersyukur dapat berdamping dengan Rasulullah tanpa hijab. Sebaliknya beliau dilayan dan diberi penghormatan oleh Rasulullah. Rasa dirinya terlalu kecil, terlalu hina, terlalu berdosa dan tidak layak untuk sama-sama menjadi sebahagian daripada isteri-isteri nabi.

Hal ini membuatkan Mariah selalu bangun malam untuk menyatakan kesyukurannya pada Tuhan kerana telah menyelamatkan dirinya dari terus kufur sekiranya masih bersama maharaja Mesir. Sesudah mengerjakan ibadah malam Mariah menedah tangan berdoa:
      " Wahai Tuhan yang Maha Agung, Maha Bijaksana mentadbir alam ini, terimalah aku untuk mendekatiMu, bersimpuh di bawah duli kebesaranMu, bersujud memperhambakan diri hanya padaMu dan menangis di hadapanMu, Menangiskan kedegilan dan kesombonganku, menangiskan kebutaan hatiku, menangiskan kematianku yang belum tentu dalam iman atau kufur Juga ku tangiskan baiknya Tuhan membawa aku ke sisi kekasihMu Rasul yang mulia. Sedangkan aku bukanlah layak untuk diberi penghormatan sebesar ini. Oleh itu wahai Tuhanku, terimalah aku untuk mengucap syukur yang tidak terhingga ke hadratMu, dan aku berharap biarlah hati ini terus berpaut dengan kekasihMu itu untuk sentiasa dikuatkan iman dan bakti kerana aku rasa tiada lagi tempat di dunia ini yang selamat selain di sini. Moga-moga perjalanan hidupku Engkau berkati selau, amin, amin, amin."

Mariah merasa tenang hidup di sisi Rasulullah, kerana walaupun tidak ada harta yang melimpah, tidak ada perhiasan emas, tidak ada rumah sebesar istana, tidak ada makanan yang mewah dan lazat, tidak ada tunggangan yang gagah dan lengkap, itu semua baginya tidak perlu. Cukuplah dirinya dihias dengan akhlak dan peribadi yang cantik.

Allah hendak meningkatkan darjat Mariah dengan mengurniakan seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Rasulullah SAW bersabda, " Mariah sudah merdeka oleh anaknya." Kini hilanglah status hamba dan Mariah menjadi seorang muslimah yang merdeka. Orang-orang Ansar berebut ingin mengasuh bayi comel itu, agar dengan itu memberi banyak peluang kepada Mariah untuk melayan dan menguruskan Rasulullah..

Tetapi Allah tidak menghendaki Ibrahim hidup lama, sewaktu berumur dua tahun sakitnya semakin enjadi-jadi. Ketika dia sedang nazak, Mariah meletakkan anaknya di pangkuan. Rasulullah sambil menyandarkan diri lalu berkata, " Sesungguhnya kami wahai Ibrahim, tidak kuasa melepaskan kamu sedikitpun dari ( takdir ) Allah."

Kemudian baginda mengucapkan salam bagi roh Ibrahim dam membongkok serta menciumnya. Dengan airmata berlinangan dan hati yang sedih baginda berkata, " Namun kami tidak berkata selain apa yang diredhai oleh Allah. Dan sesungguhnya kami wahai Ibrahim, sedih berpisah denganmu, sesungguhnya kita semua hamba Allah dan kepadaNya kita semua akan kembali."

Setelah  menguruskan jenazah Ibrahim, dimandi dan dikafankan, Rasulullah sendiri yang memasukkan jenazah kecil itu ke dalam maqamnya. Kesedihan Rasulullah tidak dapat dibendung. Menitis air mataBaginda. Begitu juga dengan Mariah. Pilu rasa hatinya berpisah dengan anak kecil yang masih menyusu tapi kuasa Allah lebih mengatasi segalanya.

Dalam perjalan pulang orang ramai melihat gerhana matahari dan mereka menyangka gerhana itu berlaku kerana kematian Ibrahim. Mendengar ucapan itu Rasulullah bersabda:

   " Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah. Kedua-duanya tidak akan gerhana kerana kematian seseorang dan tidak pula kerana hidupnya. Apabila kamu melihat gerhana, segeralah kamu mengingat Allah dan melakukan sembahyang ( sembahyang sunat gerhana )"

Sejak perginya Ibrahim, Mariah tidak lagi pernah mengandung. Bahagia dan sengasara yang dijalani dalam hidupnya bersama Rasulullah adalah sebagai ujian buat dirinya, untuk mengukur sejauh mana keyakinan dan keimanannya terhadap kekuasaan Allah. Dan dia berjaya dalam semua ujian berat bahkan setiap peristiwa yang dialami menebalkan lagi keyakinan nya terhadap keagungan dan kekuasaan Allah.

Setelah lima tahun Rasulullah wafat, tiba pula giliran Mariah menyahut seruan Ilahi untuk bertemu dengan yang dicintai. Alangkah indahnya jika kita wanita akhir zaman dapat menyalin akhlak Mariah Al Qibtiyah yang rupawan dari Mesir berdarah campuran Itali, untuk kita bangun sebagai srikandi akhir zaman yang sama-sama gigih untuk Islam....

8 Feb 2014

Kekhuatiran Hati Isteri Solehah.

Diceritakan ketika meninggalnya seorang suami seorang waliyah bernama Rabiah Al Bashriyyah rha maka Hassan Al Basri serta teman-temannya minta izin untuk masuk ke rumahnya. Beliau mengizinkan mereka masuk dan beliau menjatuhkan tabir rumahnya lalu duduk di belakang tabir.

Kemudian Hassan Al Basri dan teman-temannya berkata, " Sesungguhnya suamimu telah meninggal dunia, maka pilihlah para zahid ini ( pembenci dunia ) siapa yang kamu kehendaki."

Rabiah berkata, " Ya, aku terima dengan senang hati dan penuh penghargaan, tapi aku mahu bertanya kepada kamu sekelian, siapakah yang paling pandai di antara kamu hingga aku akan mengahwininya?"

Mereka berkata, " Hassan Al Basri." Kemudian Rabiah berkata, " Kalau engkau dapat memberikan jawaban kepadaku mengenai empat pertanyaan, maka aku bersedia menjadi isterimu."

Hassan Al Basri berkata, " Tanyalah kepadaku, kalau Allah memberi pertolongan kepadaku untuk boleh menjawabnya,aku akan beri jawaban kepada pertanyaanmu."

Kemudian Rabiah berkata, " Bagaimana jawabanmu kalau aku mati, aku keluar dari alam dunia dalam keadaan muslim atau kafir?" Hassan menjawab, " Ini adalah barang yang samar ( tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah )."

Rabiah bertanya lagi, " Bagaiman jawabanmu ketika aku diletakkan di tempat penguburanku, dan aku ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, apakah aku boleh menjawab pertanyaan mereka atau tidak?"

Hassan menjawab, " Itu juga perkara yang samar." Kemudian Rabiah bertanya lagi, " Tatkala manusia digiring pada hari Qiamat, dan bertebaran catatan-catatan amalan manusia, lantas sebahagian mereka diberi catatan dengan tangan kanannya dan sebahagian mereka diberi catatan amal dengan tangan kirinya, apakah aku diberi catatan amal dengan tangan kananku atau dengan tangan kiriku?"

Lalu Hassan menjawab, " Ini juga perkara yang samar." Kemudian Rabiah bertanya lagi, " Tatkala diundang pada hari Qiamat sebahagian masuk ke syurga dan sebahagian masuk ke neraka, apakah aku termasuk dalam ahli syurga atau ahli neraka?"

Hassan menjawab, " Ini juga perkara yang samar." Lalu Rabiah berkata, " Apakah seorang yang khuatir memikirkan empat perkara ini ( lebih baik ) mempunyai suami atau mengosongkan diri dari suami?"

Lihatlah wanita itu, dia seorang ahli ibadah dan tidak cinta dunia, bagaimana beliau khuatir akan akhir hidupnya, tidak akan ada kekhuatiran begini melainkan kerana hatinya yang sangat jernih. Seorang wanita solehah ialah jika melakukan satu dosa kepada suaminya maka ia menyesal di waktu itu juga dan memohon ampun demi  mencari redha Allah terhadap dirinya.

7 Feb 2014

Rumah Berbendera Merah dimasuki cahaya iman (2)

Kita sambung kisah Masikah yea..

Masikah sendiri pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
  " Sesungguhnya Allah membuka 'tanganNya' di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat di waktu siang dan Dia membuka 'tanganNya' di waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat jahat di waktu malam sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya."

Segala firman Tuhan dan hadis Nabi itu menambah kekuatan bagi Masikah untuk bertaubat dan meninggalkan jahiliah dan maksiat yang dilakukan selama ini dan menerima Islam sebagai satu cara hidup yang perlu diamalkan. Tanpa ragu-ragu Masikah mengucap dua kalimah syahadah di hadapan sahabat-sahabat muslimah Ansar. Dan dia berjanji akan menerima apa saja penyiksaan yang bakal diterima dari Ibnu Salul.

Suatu hari Ibnu Salul mengira jumlah dirham yang baru diterimanya. Dia begitu terkejut kerana hasil pendapatannya semakin berkurangan. Kemarahannya tidak dapat ditahan dan dia berkata:
" Ya, sesungguhnya Muhammad telah merampas mahkotaku. Ia menjadikan orang ramai menjauhi anak buahku kerana seruannya terus mendapat sambutan."


Sedang dia merungut-rungut itu dia terdengar namanya dipanggil orang. Bergegas dia keluar, rupa-rupanya beberapa orang pemimpin Bani Tamim berkunjung ke tempatnya. Setelah memberi penghormatan, mereka pun duduk sambil berbual-bual. Gelas-gelas berisi air kuning beredaran.

Salah seorang di antara mereka bertanya, " Manakah wanita yang dahulu pernah kamu kirimkan untuk kami?"

Sambil mengerutkan dahinya Ibnu Salul berkata, " Wanita yang mana? Mereka kan ramai..."

Lelaki itu berkata lagi, " Salah seorang wanita yang paling cantik di tempat ini."
" Oh...Masikah, nanti saya panggil."

Ibnu Salul memanggil Masikah, tapi tiada jawaban. Lantas dia membuka pintu bilik Masikah. Apa yang disaksikannya sangat mengejutkannya, serta-merta kemarahannya memuncak. Didapatinya Masikah sedang melakukan sembahyang seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin lain. Ditariknya telekung yang dipakai oleh Masikah sedangkan waktu itu Masikah belum selesai mengerjakan ibadahnya. Dengan keras dia berkata, " Celaka kamu, Muhammad telah memperdayakan kamu!" Suaranya umpama dentuman guruh dengan mukanya yang menyinga kemarahan.

Masikah menjawab, " Tidak, sesungguhnya Muhammad telah menunjukkan aku ke arah jalan kebenaran,"

Kata-kata Masikah itu menambahkan lagi kemarahan Ibnu Salul. Dia mula bertindak ganas, memukul, menerajang dan menyepak Masikah tanpa belas kasihan. Dia berbuat sesuka hatinya bagi melepaskan geramnya terhadap Masikah kerana menerima ajaran Muhammad. Masikah terjelepuk lesu tanpa suara, masih tidak berpuas hati dia menghentak kepala Masikah sekuat hatinya ke dinding. Darah merah membasahi muka Masikah. Melihat darah yang mengalir itu barulah hatinya puas dan barulah dia keluar dari bilik Masikah.

Setelah agak pulih dari kesakitan Masikah mengesat dan membalut kepalanya yang luka. Masikah terfikir, seharusnya dia lari dari tempat maksiat itu. Kalau tidak sudah tentu Ibnu Salul akan memaksa dia kembali ke lembah zina dan kesesatan. Dia tidak peduli pada penyiksaan Ibnu Salul, yang ditakutinya jika dia dipaksa melakukan maksiat lagi. 

Setelah malam tiba, di saat wanita-wanita lain di kawasan rumah berbendera merah itu sibuk melayani lelaki asing yang datang mencari kenikmatan, dan setelah memastikan keadaan benar-benar aman, Masikah mengambil kesempatan melarikan diri di tengah kegelapan malam. Dia menuju ke rumah seorang perempuan tua kaum Ansar yang dikenalinya sebelum itu.

Alangkah terkejutnya perempuan tua itu melihat keadaan Masikah. Masikah menceritakan apa yang berlaku. Perempuan tua itu benar-benar bersimpati dan dia berjanji untuk membawa Masikah berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Setelah siang mereka berdua pergi ke masjid tempat Rasulullah selalu berkumpul dengan para sahabat. Kebetulan saidina Abu Bakar sedang keluar, wanita tua itu segera berjumpa dengan saidina Abu Bakar dan menceritakan apa yang terjadi ke atas Masikah.

Abu Bakar masuk semula ke dalam masjid dan memberitahu kisah Masikah kepada Rasulullah SAW. Rasulullah terdiam sejenak, kemudian turunlah wahyu Allah kepada beliau yang bermaksud:
   " Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, kerana kamu hendak mencari euntungan duniawi. Barang siapa yang memaksa mereka, sungguh, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( kepada mereka ) sesudah pemaksaan demikian."


Masikah mengerti ayat yang turun itu menjawab segala persolan dirinya. Dia tunduk malu pada Allah dan berbisik, " Sesungguhnya Maha Agung Tuhan semesta alam, Yang Maha Mulia dan Maha Pemurah, aku bersyukur padaMu Tuhan."

Berita tentang Masikah tersebar luas. Ini membuatkan Ibnu Salul malu kerana semua orang tahu dia mencari keuntungan dari hamba-hambanya. Kini dia tidak berani lagi mengganggu Masikah dan membiarkan Masikah At Tayyibah hidup dalam iman dan Islam.

Rumah Berbendera Merah dimasuki cahaya iman.

Sewaktu Rasulullah berhijrah ke kota Madinah bersama para sahabat untuk mengembangkan Islam, orang Yahudi dan seorang tokoh pemimpin yang bernama Abdullah bin Ubay tidak senang hati dengan kedatangan Islam. Mereka tahu Islam akan mengajak penganutnya meninggalkan perbuatan maksiat dan mungkar.

Rasa tidak senang hati pada Islam membuatkan Abdullah bersekutu dengan puak yahudi. Mereka menggunakan pelbagai tipu helah, cara nifaq atau perang tersembunyi menentang Islam dan kaun muslimin.

Abdullah bin Ubay atau lebih dikenali dengan panggilan Ibnu Salaul juga adalah 'bapa ayam' yang terkenal di Madinah. Dia mempunyai rumah-rumah kecil untuk pelacur berbagai bangsa, terutamanya bangsa yahudi. Di hadapan rumah-rumag itu dikibarkan bendera merah sebagai simbol pengenalan. Segala usahanya itu bertujuan merosakkan pemuda-pemudi mukmin agar berpaling dari jalan kebenaran yang dibawa oleh nabi Muhammad dan melalaikan pemuda-pemudi Madinah daripada dipengaruhi oleh Islam.

Sebelum kedatangan Islam ke Madinah, perniagaan Ibnu Salul cukup maju, rumah-rumah kecilnya sering didatangi tetamu-tetamu kenamaan mahupun rakyat biasa terdiri dari orang Yahudi dan bangsa Arab sendiri. malah musafir-musafir dari Bani Tamim juga tidak ketinggalan singgah di pondok-pondok itu. Namanya cukup terkenal ketika itu kerana menyediakan gadis-gadis yang comel yang pandai melayan kehendak lelaki.

etapi setelah kedatangan Islam dan menyebarkan cahayanya ke seluruh pelusuk Madinah, perniagaan Ibnu Salul mula merosot. Inilah antaranya yang menyebabkan Ibnu Salul benci dan marah pada Islam dan pada Nabi Muhammad. Ibnu Salul telah menawarkan hadiah istimewa pada 'anak-anak ayam' sekiranya mereka berjaya memujuk salah seorang dari penganut Islam ke lembah maksiat dan perzinaan.

Di antara wanita-wanitanya itu ada seorang yang bernama Masikah, beliau cukup terkenal di klangan orang kenamaan Yahudi kerana rupanya yang cantik dan tubuhnya yang menggiurkan siapa saja yyang melihat. Ibnu Salul memaksa Masikah melakukan pekerjaan terkutuk itu sejak beberapa tahun sebelum kedatangan Islam ke Madinah.

Masikah terpaksa akur kepada majikannya yang merupakan tuannya, walaupun hati kecilnya menolak untuk melakukan kerja hina itu, tapi apakan daya dia tak berupaya menolak..Masikah rasa pelik dan hatinya tertanya-tanya kenapa Ibnu salul begitu benci dan irihati pada Islam dan kaum muslimin hingga memaksanya menggoda mereka ke tempat yang kotor dan menjijikkan itu. Sungguhpun dia telah berusaha mempengaruhi mereka tetapi usahanya itu sedikitpun tidak berjaya. Para pemuda muslim begitu teguh iman mereka.

Sebaliknya pemuda-pemuda yang bertaqwa itu telah memberitahunya tentang Islam, kemanisan iman, tentang syurga dan neraka, alam akhirat dan kehidupan selepas mati nanti, membuatkan Masikah tertarik dan ingin mengetahui lebih lanjut lagi. Dan dia bermaksud cuba menyingkap rahsia yang membuatkan tuannya sangat irihati dan memusuhi Islam.

Secara sembunyi-sembunyi Masikah mulai mendekati muslimah-muslimah untuk berkenalan dan beramah-mesra. Dia menyaksikan betapa lembut dan jernihnya wajah-wajah mereka yang menampakkan betapa indahnya didikan Rasulullah sehingga mereka dapat beriman, taat, patuh, berkasih-sayang, pemurah, baik sangka, berkorban, berjihad, bermaaf-maafan, berbuat baik pada orang yang berbuat jahat pada mereka, bertolong-bantu, tidak meminta-minta apabila susah, tidak sombong, tidak mudah putus asa, berlumba-lumba menegakkan kebaikan  dan lain-lain yang sam sekali tidak ada pada dirinya.

Masikah rasa kagum dan malu sendiri. Dia benar-benar tertarik dan ingin menyertai mereka. Tapi bagaimana? Masikah sedar dirinya menanggung dosa syirik setiap hari bergelumang dengan noda. Dirasakan dosanya memenuhi langit dan bumi, sedangkan Islam adalah agama yang suci. Sudikah Tuhan menerimanya, seorang hamba yang penuh berbalut dosa dan noda. 

Keluhan dan rintihan hatinya seolah-olah didengar oleh Allah lalu didatangkan seorang wanita Ansar dan dibacakan sebuag firman Tuhan yang bermaksud"

     " Katakanlah: Hai hamba-hamba yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." 
                                                                                                                          Az Zumar: ayat 53.


Apakah yang akan terjadi seterusnya, tunggu yea...kisah yang sangat menarik dan penuh pengajaran..
Baju Muslimah

Asam Garam Kehidupan Copyright © 2016. Designed by MaiGraphicDesign