Asam Garam Kehidupan

Nuffnang

Pages

6 Sept 2014

Ummu Ammarah- pejuang wanita sejati.







Tinta sejarah menjadi saksi, bahawa tidak sedikit wanita mukminah yang terjun ke medan pertempuran, jihad fii sabilillah. Mereka menyelinap di antara lemparan-lemparan lembing, kilatan-kilatan pedang dan jatuhan anak-anak panah.

Mereka menyampaikan makanan, minuman dan ubat-ubatan bagi perajurit mukmin yang berjuang mempertahankan Islam. Bahkan jika keadaan memintanya untuk menghunus pedang, mereka tidak gentar justeru makin berkobar semangatnya. Diantara wanita-wanita pejuang itu adalah Nusaibah binti Ka’af Al-Ansariyah yang terkenal dengan Ummu ‘Umarah.

Sesungguhnya Ummu ‘Umarah merupakan salah satu contoh keberanian dan ketegaran. Ia merupakan sosok kepahlawanan yang tidak pernah gagal dalam melaksanakan kewajiban bilamana seruan jihad memanggilnya. Ia adalah sahabiyah Nabi yang utama ….. Ia termasuk salah satu dari dua wanita yang bergabung dengan tujuh laki-laki Ansar yang berbai’ah kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pada bai’at Aqabah kedua.

Pada waktu itu ia bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan dua orang putranya, Hubaid bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Dan wanita yang satu lagi adalah saudara perempuannya. Ibnu Sa’ad dalam Thalaqatnya menyatakan (yang terjemahannya): “Hunain, Perang Yamamah dan terpotong tangannya dan mendengar beberapa hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

Sedangkan Imam Adz Dzahabi menyatakan (yang terjemahannya): “Ia (Ummu ‘Umarah) adalah wanita yang utama dan wanita dari kalangan Ansar, Khazraj, Najjar, Mazin dan juga sebagai orang Madinah. Saudaranya Abdullah bin Ka’ab termasuk orang yang ikut Perang Badar dan saudaranya Abdur Rahman termasuk orang yang suka menangis.

Ummu ‘Umarah menghadiri malam perjanjian Aqabah. Ia juga ikut dalam Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Hunain, Perang Yamamah dan aktif melakukan beberapa kegiatan.” Dalam perang Uhud, Ummu ‘Umarah Nusaibah berjuang bersama suaminya dan dua orang puteranya. Ia keluar untuk memberi minum dengan membawa qirbah (tempat air).

Namun ketika keadaan pasukan Muslimin berubah menjadi terdesak, ia ikut terjun langsung dalam pertempuran sehingga terluka dengan luka-luka sebanyak dua belas (dalam riwayat lain tiga belas. wallaahu a’lam). Tentang peristiwa ini Ummu ‘Umarah mengisahkan (yang terjemahannya): “Keadaan pasukan kaum Muslimin benar-benar berkecamuk. Banyak orang meninggalkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi Baginda, termasuk aku, suamiku, serta kedua anakku."

"Sementara di depanku, banyak orang sedang melarikan diri untuk mundur. Saat itu aku tidak bersenjata. Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang mengundurkan diri sambil membawa perisai, beliau lalu bersabda: “Berikanlah perisaimu kepada orang yang sedang berperang!” Orang tersebut segera melemparkannya dan aku segera memungutnya lalu aku gunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam."

"Pasukan yang menyerang saat itu adalah pasukan berkuda. Kami yakin, apabila bukan pasukan berkuda pasti kami sudah bisa mengatasinya. Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda menyerangku dengan pedang, serangan itu dapat aku tangkis. Ketika dia akan lari aku hantam kaki kudanya dan dia pun jatuh tertelungkup. Saat itu aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak: “Wahai putera Ummu ‘Umarah bantulah ibumu!”

"Lantas datanglah anakku dan kami bersama-sama menghabiskan orang itu.” Ummu ‘Umarah terus bertempur tanpa mengenal lelah, sambil sesekali membantu merawat mereka yang luka. Begitu sibuknya Ummu ‘Umarah, sampai-sampai ia tidak mengetahui kalau puteranya Abdullah bin Zaid terluka parah. Ia baru mengetahuinya setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak (yang terjemahannya): “Hai Abdullah! Kau ikat lukamu dulu baru kau teruskan bertempur lagi!”

Ummu ‘Umarah terkejut mendengar teriakan itu dan segera sadar putranya dalam bahaya. Segera ia mendekati dan mengobati luka putranya yang ternyata memang parah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengawasi keduanya dan setelah selesai, Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Nah … sekarang bangkitlah dan perangilah kaum itu !”

Melihat kejadian tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini ya Ummu ‘Umarah?” Kemudian datanglah orang yang memukul puteranya tadi lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Ya …. Ummu ‘Umarah ! Itu orang yang memukul anakmu datang!”

Tanpa banyak berbicara Ummu ‘Umarah menghadang orang yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghentam kakinya sehingga orang tersebut terduduk di tanah. Sambil tersenyum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang melihat hal itu bersabda (yang terjemahannya): “Engkau telah membalasnya ya Ummu ‘Umarah!”

Tidak lama kemudian beberapa orang datang dan bersama-sama membunuh orang tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda lagi (yang terjemahannya): “Alhamdulillah ….. ! Allah memberikan kesempatan kepadamu untuk membalas musuhmu dan menyaksikan pembalasan itu sendiri.”

Imam Adz Dzahabi meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata (yang terjemahannya): “Saya mengikuti perang Uhud, maka ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya dan ibu mendekati Baginda untuk melindungi. Lalu Baginda bertanya: “Mana Ummu ‘Umarah?” Ibu menjawab: “Ya! wahai Rasulullah” Baginda bersabda: “Lemparilah !” Lalu ibu melempari seorang laki-laki yang sedang naik kuda di depan beliau dengan batu dan mengenai mata kudanya."

"Kemudian kudanya itu bergoncang-goncang dengan kuat lantas jatuh bersama penunggangnya, lalu saya tindih orang itu dengan batu dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sambil tersenyum. Kemudian Baginda terlihat luka di pundak ibu, lalu Baginda berseru: “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di dalam syurga”

Mendengar itu ibu berkata: “Aku tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini!” Allahu Akbar! Betapa tegarnya engkau wahai Ummu ‘Umarah. Tidak lagi engkau menghiraukan lukamu setelah doa yang menggembirakan hatimu!

Begitulah Ummu ‘Umarah melewati hari-harinya dengan terus berjuang di jalan Allah dan Rasul. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah wafat muncullah si pendusta Musailamah al Kadzdzab yang mengaku sebagai Nabi sehingga kaum Muslimin pun memeranginya.

Takdir Allah menentukan bahawa Hubaib putera Ummu ‘Umarah ditawan Musailamah, kemudian disiksa dengan berbagai siksaan. Namun Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keteguhan, kesabaran dan kecekalan kepada putera Ummu ‘Umarah ini, meskipun teramat berat siksaan dirasakannya.

Akhirnya Allah mentaqdirkan Hubaib mati di tangan Musailamah dengan keadaan yang sangat tragis dan menyedihkan. Semoga Allah menempatkannya di Jannah yang penuh dengan kenikmatan. Al Waqidi menceritakan (yang terjemahannya): “Ketika sampai kepada Ummu ‘Umarah berita kematian anaknya di tangan Musailamah, maka ia berjanji kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar ia juga mati di tangan Musailamah atau ia yang membunuh Musailamah."

"Maka Ummu ‘Umarah ikut perang Yamamah bersama Khalid bin Walid, lalu Musailamah terbunuh dan tangan Nusaibah terpotong dalam perang tersebut.” Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Tanganku terpotong pada hari perang Yamamah padahal aku sangat berkeinginan membunuh Musailamah. Tidak ada yang dapat melarangku hingga aku melihat orang jahat itu mati terkapar. Dan tiba-tiba aku lihat anakku Abdullah bin Zaid mengusap pedangnya dengan pakaiannya, lalu bertanya kepadanya : “Engkaukah yang membunuhnya?”

Ia menjawab: “Ya” Kemudian aku sujud syukur kepada Allah.” Itulah sepenggal kisah Ummu ‘Umarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Ansariyah, sehingga seorang pejuang wanita yang berjuang dalam hidupnya untuk kejayaan Islam hingga akhir hayatnya. Semoga Alllah meredhainya dan menjadikannya redha terhadapNya. Dan semoga Allah menyambut dengan Rahmat-Nya yang luas dan menempatkannya di dalam syurga yang penuh dengan kebahagiaan, ketenangan dan ketenteraman yang hakiki. Wallaahu A’lam Bishashawab.

Siapakah Siti Khadijah ra.?





1 – Siapakah Siti Khadijah (ra)?


Nasab dan Kelahiran Beliau
Beliau adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy bin Ghalib bin Fihr.
Ibunya: Fathimah binti Zaaidah bin Al Asham bin Rawahah bin Hajar bin Abd, bin Ma’ish bin ‘Amir bin Luayy bin Ghaib bin Fihir.
Di lahirkan di kota Mekkah 15 tahun sebelum peperangan Gajah berlaku, tepatnya 556 M.
Latarbelakang Keluarga dan Pernikahan Beliau
Beliau berasal dari keluarga mulia nasabnya, terhormat martabatnya, luhur budi pekertinya, bersifat pemurah, sangat menjunjung tinggi akan nilai-nilai murni, serta luas kekayaannya.
Secara amnya Siti Khadijah (ra) berasal dari keluarga yang berwibawa, ayahnya Khuwailid adalah salah seorang yang pernah berjasa dalam melindungi Al Hajar Al Aswad ketika ingin di rampas oleh seorang bernama Taba’ dan di bawa ke negerinya. Maka Khuwailid yang berjaya menghalang niat Taba’ tersebut.
Beliau juga merupakan saudagar wanita yang berjaya di zamannya, beliau sebagai penerus perniagaan ayahnya serta mewarisi kepandaian dalam berniaga.
Merupakan adat kebiasaan keluarga terhormat dari kalangan bangsa Quraish ketika itu adalah menikahkan anak-anak perempuan mereka pada usia muda. Tidak terkecuali Siti Khadijah (ra). Siti Khadijah (ra) telah menikah 2 kali sebelum menikah dengan Nabi Muhammad (SAW). Mereka adalah:-
Atiq bin Abid bin Abdullah Al Makhzumi, mendapat cahaya mata dari pernikahan ini seorang anak lelaki bernama Abdullah.
Hindun bin Zurarah bin Nabbash Al Tamimi, mendapat 3 cahaya mata: Hindun, Harith, dan Zainab.
Orang Yang Berpengaruh Ke Atas Keperibadian Beliau
Terdapat dua (2) orang yang berpengaruh dalam kehidupan Siti Khadijah (ra), sebelum menikah dengan Nabi Muhammad (SAW):-
Hakim bin Hizam anak saudara Siti Khadijah (ra). Beliau rakan kerja Siti Khadijah (ra) dalam perniagaanya, beliau seorang yang bijak, sehingga kebijakannya menyebabkan beliau layak untuk di lantik sebagai ahli parlimen termuda di (Dar Al-Nadwah) yang dianggotai ahli-ahli dalam lingkungan 40’an.
Waraqah ibnu Naufal [anak bapa saudara Siti Khadijah (ra)], beliau seorang tua beragama kristian, beriman kepada Allah SWT, serta banyak mengkaji akan kitab Taurat dan Injil. Beliau sering berdiskusi dengan paderi-paderi di zamannya membincangkan tentang kehadiran penutup para nabi.


Dengan demikian Siti Khadijah (ra) banyak terpengaruh dengan dua (2) orang ini kerana rapat perhubungan di antara mereka. Terpengaruh dengan Hakim dari sudut kecekapan dalam membangunkan ekonomi melalui perniagaan, dan Waraqah dari sudut membangunkan kerohanian, beliau merupakan guru kepada Siti Khadijah (ra).
Gelaran-Gelaran Siti Khadijah (ra)
Adapun gelaran yang di sandang oleh Siti Khadijah (ra) adalah:
Gelaran sebelum menikah dengan Nabi (SAW):
Pertama: Al – Thahirah (yang suci)
Beliau meraih gelaran itu di sebabkan: Beliau tidak suka bergaul dengan para peniaga-peniaga kaum lelaki, di dalam keadaan beliau sebagai seorang saudagar yang sukses yang umumnya akan banyak berinteraksi dengan para saudagar-saudagar dari kalangan kaum lelaki. Akan tetapi beliau menghantarkan orang kepercayaannya, seperti Hakim bin Hizam ataupun Maisarah.
Beliau tidak suka bergaul dengan wanita-wanita yang suka menghabiskan masanya dalam kelalaian, seperti dalam majlis tari-tarian, atau nyanyian, dan lain-lain. Walaupun Mekkah pada saat itu di penuhi dengan tempat-tempat seperti itu.

Kedua: Sayyidah Nisa’ Quraish (puteri Quraish)
Gelaran ini di raih disebabkan oleh kerana keluhuran akhlaknya, dan ketinggian martabatnya, serta kemuliaan marwahnya. Kerana beliau seorang wanita yang tidak menjadi hamba kepada harta yang dimilikinya, beliau banyak menggunakannya untuk membantu orang miskin, disamping banyak memanfaatkan peluang untuk berguru kepada Waraqah bin Naufal.

Gelaran setelah menikah dengan Nabi (SAW)
Siti Khadijah (ra) dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki pandangan tajam dan firasat yang benar. Beliau mendengar kejujuran dan keluhuran budi pekerti baginda Rasulullah (SAW), beliau memintanya untuk membawa perniagaanya ke negeri Syam bersama Maisarah pembantu setia Siti Khadijah (ra).
Setelah melihat akan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad (SAW) yang tidak pernah beliau melihatnya pada lelaki-lelaki lain, maka beliau memberanikan diri untuk meminangnya melalui sahabat karibnya bernama Nafisah, maka berlangsunglah pernikahan itu.
Siti Khadijah (ra) mendapat 6 cahaya mata dalam perkahwinan ini:-
Qasim
Abdullah (yang digelari Al Tayyib – yang baik)
Zainab
Ruqayyah
Ummu Kaltsum dan
Fathimah Al-Zahra.

Gelaran yang di raih oleh Siti Khadijah (ra) setelah menikah dengan Rasulullah (SAW) adalah:-
Pertama: Ummul Mukminin
Nabi adalah lebih di utamakan dari kaum mukminin dan isteri-isterinya adalah ibu mereka. (Surah Al Ahzab, Ayat 6)

Kedua: Sayyidah Nisa’ Al ‘Alamin
Nabi Muhammad (SAW) telah bersabda: Cukup bagimu daripada wanita-wanita termulia di seluruh alam: Siti Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad (SAW), Asiah isteri fir’aun.
Ketiga: Sayyidah Nisa’ Ahli Al Jannah
Dari Ibnu Abbas (ra) katanya: Rasulullah (SAW) membuat 4 garisan, seraya berkata: Tahukah apakah apa ini? Mereka menjawab: Hanya Allah dan RasulNya yang mengetahui. Nabi (SAW) bersabda: Penghulu seluruh wanita di syurga adalah: Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad (SAW), Asiah binti Muzahim dan Maryam binti Imran. Semoga Allah meridoi mereka semua. (Bukhari)

Kewafatan Siti Khadijah (ra)
Terdapat banyak pandangan tentang tahun ataupun bulan kewafatan Siti Khadijah (ra), tetapi yang di sepakati oleh ahli sirah adalah beliau meninggal dunia sebelum hijrah.
Imam Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat bahawa, ketika Siti Khadijah (ra) sakit, beliau di dampingi oleh Rasulullah SAW, dan baginda bersabda: Sungguh aku sedih melihat rintihanmu wahai Khadijah! Tetapi Allah SWT akan menjadikan kebaikan yang besar di dalam kesakitan yang engkau alami ini. Tahukah kamu, kalau Allah SWT akan mengahwinkan kamu denganku di syurga nanti.
Maka Siti Khadijah (ra) senang, lalu meninggal dunia. Jenazah Siti Khadijah (ra) dikebumikan di Mekkah, di kawasan Al Hijjun atau perkuburan Al Ma’la.

2 – Mengapa Siti Khadijah (ra) Harus Dicintai dan Diteladani?


Setiap orang yang beriman laki-laki dan perempuan adalah bersaudara, sebagai saudara dalam iman, kita dituntut untuk saling mengasihi dan mencintai untuk memenuhi tuntutan iman.
Rasulullah (SAW) bersabda, ‘Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri’. (teks arab yang berkaitan tidak dapat diterbitkan disini atas sebab-sebab teknikal – Admin)
Erti kecintaan disini adalah kecintaan dalam kebaikan, yakni: sebagaimana kita suka untuk mendapat kebaikan untuk diri kita, demikian juga untuk saudara kita dan sebagaimana kita tidak suka akan keburukan menimpa kita, demikian juga ke atas saudara kita.
Mencintai orang-orang soleh adalah lebih tinggi darjatnya dan pahalanya serta manfaatnya berbandingkan kecintaan kepada orang-orang yang beriman biasa.



‘Aku cinta para solihin walaupun aku bukan dari golongan mereka, dengan harapan agar mendapat syafa’at dengan mencintai mereka. Aku tidak suka sesiapa yang perbuatannya itu bermaksiat, walaupun kita ini juga berbuat maksiat’
Maka dengan mukaddimah sedikit tentang kecintaan dan pembahagiannya, kita dapat memahami semakin tinggi kedudukan seseorang disisi Allah, semakin bermakna erti kecintaan kepada mereka. Dengan demikian, mencintai Siti Khadijah (ra) lebih dituntut disebabkan:
Pertama:
Beliau wanita solehah yang dicintai Allah serta mendapat salam khusus dariNya, maka mencintai orang yang dicintai Allah adalah satu ibadah dalam mentaati perintah Allah Ta’ala.
Rasulullah (SAW) bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala bilamana suka kepada seseorang hamba, maka Dia akan menyeru kepada Jibril: ‘Wahai Jibril! Sesungguhnya Allah suka kepada fulan bin fulan maka cintailah dia’, maka dicintai oleh Jibril. Lalu kemudian Jibril akan menyeru kepada seluruh penghuni langit: ‘Bahawa Allah cinta kepada fulan bin fulan’, maka ia akan dicintai oleh penghuni langit, lalu kemudian akan diletakkan tanda qabulnya kepada penghuni bumi’ – Riwayat Imam Bukhari.

Kedua:
Beliau wanita yang sangat dicintai Rasulullah (SAW). Mencintai beliau untuk mendapat kecintaan Rasulullah (SAW).
Dari Aisyah (ra): Aku tidak pernah cemburu terhadap isteri-isteri Rasulullah (SAW) sepertimana kecemburuanku kepada Khadijah (ra), walaupun aku tidak berjumpa dengannya.
Dari Aisyah (ra) juga: Dan adalah Rasulullah (SAW) terkadang menyembelih kambing lalu bersabda: ‘Hantarkan daging kambing ini kepada sahabat-sahabat Siti Khadijah (ra)’. Maka pada suatu hari aku membuat Baginda (SAW) marah, aku berkata: ‘Khadijah!’ (dengan ungkapan tidak suka), maka Rasulullah (SAW) bersabda: ‘Aku telah dianugerahkan kecintaan kepadanya’.
Imam Nawawi (ra) berkata: Hadis ini menunjukkan isyarat bahawa mencintai Siti Khadijah (ra) akan mendapat fadhilat dikeranakan mencintai orang yang dicintai Rasulullah (SAW) – Kitab syarah Muslim.

Ketiga:
Beliau (ra) adalah keluarga Rasulullah SAW yang wajib dicintai’Katakanlah (wahai Muhammad)! ‘Aku tidak meminta kepadamu (wahai umatku) apa-apa balasan kecuali kecintaan kepada ahli keluargaku’ – Ayat 23, Surah Asy-Syura

Keempat:
Beliau wanita yang pertama yang berjasa ke atas umat Islam kerana pengorbanannya. Kerana Siti Khadijah (ra) setelah menikah dengan Rasulullah (SAW), beliau memberikan seluruh hartanya demi perjuangan dakwah Baginda.
Dan engkau didapatiNya sebagai seorang miskin, lalu diberinya kekayaan – Ad Dhuha, Ayat 8
Imam Al Alusi berkata: Maksud ayat ‘diberi kekayaan’ iaitu dengan harta Siti Khadijah (ra).

Kelima:
Sebab beliau (ra) wanita pilihan yang diberi hidayah oleh Allah, dan kita diperintah untuk meneladani orang-orang yang mendapat hidayah.
Mereka adalah orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah, maka dengan petunjuk mereka hendaklah kamu mengikutinya – Surah Al Anam, Ayat 90.

Keenam:
Beliau (ra) wanita yang cintakan akan nilai-nilai murni yang terpahat dalam hatinya sebelum dan apatah lagi setelah memeluk Islam.

Ketujuh:
Nabi (SAW) memilih beliau (ra) sebagai contoh teladan kepada ummatnya, terutama kaum wanita.
Sabda Baginda (SAW): Cukup bagimu dari pada wanita-wanita termulia di seluruh alam: Siti Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad (SAW) dan Asiah isteri Fir’aun.

3 – Siapakah Siti Khadijah (ra) Di Hati Rasulullah (SAW)?


Tidak sesiapapun yang mampu menjawab soalan ini kecuali tuan empunya hati, yaitu Rasulullah (SAW), tetapi apa yang akan saya ketengahkan di bawah ini adalah sedikit dari suara hati Baginda Rasulullah (SAW) ketika mengungkapkan akan kedudukannya, yakni Siti Khadijah (ra), di hati baginda Rasulullah (SAW):-
Pertama:
Siti Aisyah (ra) berkata: Rasulullah (SAW) hampir setiap kali keluar rumah menyebut nama Khadijah (ra) dan memujinya. Pada suatu hari aku dengan perasaan cemburu aku berkata: “Dia itu (Khadijah) tidak lebih hanya seorang wanita tua, dan Allah telah menggantikan untukmu yang lebih baik darinya”, maka Baginda (SAW) marah seraya bersabda: “Demi Allah! Allah tidak menggantikan untukku yang lebih baik darinya, Khadijah (ra) beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa, dan Allah memberikan untukku dzuriyat darinya yang tidak ada pada yang lain” – Riwayat Ahmad dan Thabrani.

Kedua:
Dari Aisyah (ra) ia berkata: “Aku tidak pernah cemburu terhadap isteri-isteri Rasulullah (SAW) sepertimana kecemburuanku kepada Khadijah (ra), walaupun aku tidak berjumpa dengannya”. Lalu ia berkata lagi: “Dan adalah Rasulullah (SAW) terkadang menyembelih kambing lalu bersabda:”Hantarkan daging kambing ini kepada sahabat-sahabat Siti Khadijah (ra)”. Pada suatu hari aku membuat Baginda marah, aku berkata: “Khadijah!” (dengan ungkapan tidak suka), maka Nabi (SAW) bersabda: “Aku telah di anugerahkan kecintaan kepadanya”.

Ketiga:
Diriwayatkan oleh Siti Aisyah (ra), katanya: “Ketika para tawanan perang Badar di bebaskan dengan tebusan, Siti Zainab (ra), puteri Rasulullah (SAW) menghantarkan kalung (pemberian Siti Khadijah (ra) pada hari perkahwinannya) sebagai terbusan suaminya (Abu Al-‘aash ibn Al-Rabi’), maka Rasulullah (SAW) ketika melihat kalung itu tersentuh hatinya, lalu meminta persetujuan para sahabat untuk membebaskannya tanpa tebusan, lalu mengembalikan kalung tersebut, maka mereka bersetuju, lalu ia di bebaskan”.

4 – Keutamaan Siti Khadijah (ra)


Pertama:
Imam Bukhari meriwayatkan bahawa ketika Jibril (as) datang kepada Nabi (SAW), dia berkata: “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan”.

Kedua:
Jibril (as) menyampaikan salam itu kepada Rasulullah (SAW) seraya berkata kepada Baginda: ‘Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya’. Kemudian Rasulullah (SAW) bersabda : ‘Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu’. Maka Khadijah (ra) menjawab : ‘Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan)’.

Nukilan: Al Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abu Bakar Al Hamid

Baju Muslimah

Asam Garam Kehidupan Copyright © 2016. Designed by MaiGraphicDesign